Suarapakar.com, 10 Juni 2026 – JAKARTA — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang secara mengejutkan membeberkan rencana besar untuk mentransformasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam sebuah pernyataan yang mengindikasikan perubahan fundamental, Nanik Deyang ubah total strategi MBG, ini daftar menu yang dilarang: Tema tahun 2026 adalah kualitas. Langkah ini diambil menyusul berbagai evaluasi dan insiden yang terjadi, termasuk kasus keracunan makanan yang sempat menggemparkan pada September 2025.
Sejak dilantik, Nanik S. Deyang telah menunjukkan komitmen kuat untuk memperbaiki tata kelola MBG. Ia menegaskan bahwa fokus utamanya adalah pada efisiensi anggaran, penataan ulang dapur, penajaman sasaran penerima manfaat, serta mencari sumber pendanaan alternatif di luar APBN untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). “Kami concern pada efisiensi anggaran agar bisa tidak membebani anggaran negara pada saat ini, tetapi dengan tidak mengubah target dari yang kita berikan gizi,” jelas Nanik usai pelantikannya di Istana Negara.
Salah satu langkah strategis awal yang diambil adalah menerapkan moratorium untuk pengkajian ulang kebutuhan ideal jumlah dapur. Nanik S. Deyang ubah total strategi MBG dengan menata ulang sebaran dapur yang ada. “Kita tata apakah dapur ini melayani, ini sudah bisa melayani sebetulnya dengan penerima manfaat yang ada atau sebetulnya berlebihan,” ujarnya. Kebijakan ini diharapkan dapat memetakan kebutuhan riil di setiap daerah dan mencegah potensi pemborosan anggaran.
Also Read
Lebih lanjut, Nanik menyoroti pentingnya kualitas dalam penyajian makanan bergizi. Meskipun detail mengenai daftar menu yang dilarang belum diungkapkan secara spesifik, indikasi kuat mengarah pada peningkatan standar kebersihan, keamanan pangan, dan nilai gizi. Tema tahun 2026 yang diusung adalah kualitas, yang berarti setiap sajian MBG harus memenuhi standar tertinggi. Hal ini juga sejalan dengan janji Nanik untuk menjadikan MBG lebih akuntabel, adaptif, efisien, berkualitas, dan tepat sasaran.
Pergantian kepemimpinan di BGN memang menjadi momentum krusial. Nanik S. Deyang, yang menggantikan Dadan Hindayana, berjanji untuk menjalankan amanah ini secara profesional dan bertanggung jawab. Ia menyadari bahwa program MBG memiliki peran ganda yang sangat strategis, yakni mencerdaskan anak bangsa sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan. Dukungan dari Wakil Kepala BGN Arumsari yang akan mengawasi aspek keuangan dan tata kelola anggaran, serta Sakti Wahyu Trenggono yang fokus pada pengembangan layanan di wilayah terpencil, diharapkan dapat memperkuat implementasi strategi baru ini.
Insiden keracunan makanan yang terjadi di masa lalu menjadi pengingat keras akan rapuhnya sistem pengawasan dan kualitas dalam program sebesar MBG. Nanik S. Deyang ubah total strategi MBG dengan menempatkan evaluasi berkala sebagai prioritas. Meski sanksi tegas bagi dapur yang lalai belum diungkapkan, fokus pada pencegahan dan peningkatan standar menjadi kunci utama. Transparansi dan kehati-hatian dalam setiap tahapan operasional diharapkan dapat membangun kembali kepercayaan publik terhadap program yang menyangkut gizi generasi penerus.
Perjalanan BGN sejak berdiri pada Agustus 2024 memang penuh dinamika. Dari kondisi awal yang sederhana di bawah kepemimpinan Dadan Hindayana, BGN terus berkembang dengan perluasan cakupan program hingga ke Sekolah Indonesia di Jeddah. Namun, tantangan dalam pengendalian kualitas makanan dan SOP mendorong dilakukannya evaluasi besar-besaran yang berujung pada pergantian pimpinan. Kini, di bawah Nanik S. Deyang, BGN dituntut untuk membuktikan bahwa perbaikan yang dijanjikan bukan sekadar retorika, melainkan implementasi nyata yang berdampak positif bagi jutaan penerima manfaat.
Strategi Nanik Deyang untuk menjadikan tahun 2026 sebagai tonggak kualitas MBG tidak hanya berfokus pada menu yang disajikan, tetapi juga pada seluruh rantai pasokannya. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan di dapur, hingga distribusi kepada siswa, semuanya akan diawasi dengan ketat. Harapannya, program makan bergizi gratis ini dapat benar-benar memberikan manfaat optimal bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak-anak Indonesia, serta menjadi contoh tata kelola program pemerintah yang efektif dan efisien.




