Dari Laba Triliunan hingga Rencana Delisting: Gelombang Dinamis Saham Grup Djarum di Bursa

Author Image

Terbit

12 Juni 2026, 11:10 WIB

Dari Laba Triliunan hingga Rencana Delisting: Gelombang Dinamis Saham Grup Djarum di Bursa
Dari Laba Triliunan hingga Rencana Delisting: Gelombang Dinamis Saham Grup Djarum di Bursa

Suarapakar.com, 12 Juni 2026 – Pasar modal Indonesia kembali diramaikan dengan manuver sejumlah emiten yang terafiliasi dengan Grup Djarum. Dalam beberapa waktu terakhir, berita mengenai kinerja keuangan yang positif hingga rencana strategis korporasi, termasuk potensi delisting, mewarnai pergerakan saham grup Djarum di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini menunjukkan dinamika bisnis yang terus berkembang dari salah satu konglomerat terbesar di tanah air.

Salah satu emiten yang mencetak kinerja gemilang adalah PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR). Pada kuartal I 2026, TOWR berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp3,55 triliun, sebuah pencapaian yang tumbuh signifikan sebesar 17,17% secara year-on-year (yoy). Kenaikan laba ini ditopang oleh lonjakan pendapatan yang juga mencapai 10,82% (yoy) menjadi Rp3,55 triliun pada periode yang sama. Sebagian besar pendapatan ini disumbangkan oleh pihak ketiga, menunjukkan kekuatan bisnis operasional TOWR di pasar.

Berbeda dengan TOWR, emiten menara lain yang juga bagian dari Grup Djarum, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), justru mengumumkan rencana pembagian dividen jumbo. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 9 Juni 2026, TBIG memutuskan untuk membagikan dividen tunai sebesar Rp1,06 triliun atau Rp47 per saham dari laba bersih tahun buku 2025. Angka ini setara dengan 74% dari total laba bersih perseroan yang mencapai Rp1,42 triliun. Dividen ini akan dibayarkan pada 9 Juli 2026 kepada para pemegang saham yang terdaftar pada tanggal recording date 22 Juni 2026. Selain pembagian dividen, RUPST TBIG juga menyetujui penerbitan surat utang (notes) dalam mata uang asing dengan nilai pokok maksimal US$900 juta untuk mendukung strategi bisnis jangka panjang.

Di sisi lain, kabar mengejutkan datang dari PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST), emiten Grup Djarum lainnya. IBST mengumumkan rencana untuk melakukan penghapusan pencatatan saham atau delisting dari BEI. Rencana ini akan dibawa ke Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk mendapatkan persetujuan. Proses go private ini akan dilakukan melalui penawaran tender sukarela (VTO) oleh pemegang saham pengendali, PT Iforte Solusi Infotek, kepada seluruh pemegang saham publik. Harga VTO yang ditawarkan adalah Rp5.400 per saham, lebih tinggi dari harga penawaran tender wajib sebelumnya. IBST merupakan anak usaha dari PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dan rencana delisting ini merupakan bagian dari strategi penyederhanaan struktur korporasi Grup TOWR untuk menciptakan struktur yang lebih agile dan efisien.

Langkah delisting IBST ini sejalan dengan tren yang terjadi di pasar modal, di mana beberapa emiten lain juga berencana melakukan hal serupa. Bursa Efek Indonesia sendiri telah mencatat sejumlah perusahaan yang masuk radar potensial delisting. Bagi IBST, perubahan status dari perusahaan terbuka menjadi tertutup diharapkan dapat mempermudah sinergi antar entitas usaha dan memungkinkan manajemen untuk lebih fokus pada strategi bisnis jangka panjang.

Pergerakan aktif dari berbagai emiten yang terafiliasi dengan saham grup Djarum ini mencerminkan strategi bisnis yang beragam, mulai dari ekspansi dan penguatan kinerja operasional hingga restrukturisasi korporasi. Investor yang memantau pergerakan saham grup Djarum perlu mencermati setiap perkembangan, baik dari sisi fundamental maupun rencana strategis perusahaan. Keputusan untuk membagikan dividen jumbo oleh TBIG menunjukkan kepercayaan perusahaan terhadap prospek bisnisnya, sementara rencana delisting IBST menandakan adanya pergeseran strategi untuk efisiensi dan fokus jangka panjang.

Dalam konteks yang lebih luas, pergerakan emiten-emiten ini juga berkontribusi pada dinamika pasar modal Indonesia. Kinerja positif TOWR memberikan sinyal optimisme di sektor infrastruktur telekomunikasi, sementara aksi korporasi TBIG dan IBST menunjukkan adanya upaya adaptasi dan optimalisasi model bisnis di tengah lanskap ekonomi yang terus berubah. Perhatian lebih lanjut pada saham grup Djarum akan terus menjadi sorotan pelaku pasar.

Sementara itu, terdapat juga berita mengenai transaksi individu yang terkait dengan kesehatan. Komisaris Utama PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), Hasmoro, diketahui menambah kepemilikan sahamnya di HEAL pada awal Juni 2026. Pembelian ini dilakukan secara bertahap dengan total nilai transaksi sekitar Rp4,49 miliar untuk 5,08 juta saham. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Hasmoro di HEAL meningkat menjadi 4,99%. Sebelumnya, pada Mei 2026, Hasmoro juga telah menambah kepemilikan saham HEAL. Aksi beli oleh manajemen ini seringkali diinterpretasikan sebagai sinyal positif terhadap prospek perusahaan.

Secara keseluruhan, lanskap saham grup Djarum menunjukkan spektrum aktivitas yang luas. Dari pencapaian laba bersih yang impresif, pembagian dividen yang menguntungkan pemegang saham, hingga manuver strategis seperti delisting untuk efisiensi korporasi. Semua ini merupakan bagian dari upaya Grup Djarum untuk terus mempertahankan dan mengembangkan posisinya sebagai pemain utama dalam berbagai sektor bisnis di Indonesia.

Related Post

Terbaru