Connect with us

Kecantikan

Wanita, Hijab Serta Stereotype yang Melekat

“Tuntutan stigma dulu hanya didengar, sekarang anytime, anywhere, tak ada batas, ini bisa membuat gerah emosi semakin tinggi,”

Diterbitkan

on

Wanita, Hijab Serta Stereotype yang Melekat (suara pakar)
Foto ilustrasi wanita, hijab serta stereotype yang melekat. (Sumber: kampus pengusaha muslim)

Suarapakar.com – Anda pasti sering dengar kalimat-kalimat ‘Kalau berhijab, pasti…’ dan ‘Kalau berhijab, seharusnya…’ Kalimat yang membungkus wanita-wanita berhijab dalam lingkaran stereotype, dari kritik sampai hal-hal yang kata orang ‘wajib’.

Mereka yang berhijab dituntut berperilaku baik sesuai keinginan masyarakat. Apalagi jika mereka adalah publik figur, atlet atau seseorang yang cukup dikenal masyarakat.

“Mereka yang mengenakan hijab selalu dikaitkan dengan kalem, sopan dan hal-hal seperti itu. Padahal banyak stigma ini tidak tepat dan tidak sesuai keinginan mereka,” kata Psikolog, Ayoe Sutomo dalam acara Vaseline Hijab Bright yang digelar secara daring dikutip dari cnnindonesia, Rabu (27/10/2021).

Ayoe mengatakan, meski kondisi dan situasi sudah terbilang modern, nyatanya pandangan masyarakat soal wanita dan hijab masih terbilang kuno. Satu hal yang banyak terjadi adalah, wanita berhijab atau yang populer dengan nama hijaber ini juga sering dianggap ‘rapuh’ dan ‘lemah’ sehingga tak bisa melakukan apapun.

Hijab juga sering dianggap tak berprestasi sehingga kerap kehilangan kesempatan berkarier dan mengejar keinginan mereka.

Ditambahkannya, hijaber dianggap tidak sesuai dengan pekerjaan tertentu atau melakukan kegiatan tertentu. Tak sedikit ini membuat hijaber menutup diri dan membuang mimpi mereka.

“Hijaber tak boleh jadi atlet, olahraga tidak sesuai dengan hijab, hijaber hanya boleh mengurus rumah tangga, tak ada kesempatan berkarier. Stigma ini masih ada di masyarakat,” katanya.

Ayoe menilai, banyak pandangan salah yang dipatok masyarakat terhadap hijaber. Salah satu hal yang salah misalnya hijaber tidak boleh berolahraga.

Olahraga atau melakukan hal yang disukai, faktanya bisa membuat orang lebih bahagia dan menjadi salah satu selfcare yang bisa dilakukan, terlepas dari hijab atau tak berhijab, laki-laki atau perempuan.

Ayoe juga menyinggung perkembangan digital yang semakin mempersempit gerak perempuan berhijab. Jika dulu perempuan berhijab hanya menerima kritikan langsung, sekarang kritikan dan caci maki juga harus diterima di media daring yang bisa dibaca setiap saat dan di mana saja.

“Tuntutan stigma dulu hanya didengar, sekarang anytime, anywhere, tak ada batas, ini bisa membuat gerah emosi semakin tinggi,” kata dia.

Baca juga: Ini Prediksi Tren Gaya Rambut 2022 dari Hair Stylist Dunia, Seperti Apa?

Cara Menghadapi Stereotype terhadap Perempuan Berhijab

Kata Ayoe, mengubah pandangan orang memang bukan hal mudah. Kita tidak bisa mengubah atau memaksa orang berpikiran sesuai kehendak kita.

Cara terbaik adalah dengan tak menghiraukan paradigma orang terhadap kita.

“Penilaian orang lain sulit dikontrol. Kelola apa yang ada di pikiran kita, hilangkan apa yang muncul di pikiran kita hanya karena pendapat orang,” kata dia.

Tak hanya itu, menunjukkan kemampuan dan fokus pada hal yang kita sukai alih-alih memikirkan pendapat orang hingga terpuruk harus dilakukan.

“Tunjukkan, meskipun berhijab kita tetap bisa berprestasi. Berikan apa yang mereka anggap tidak bisa dilakukan, kuncinya adalah jangan terpuruk atau terbawa dengan pandangan mereka,” katanya.

Klik Untuk Berkomentar

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KELASTRADING

Berita Populer