Connect with us

Internasional

Sah, Ulama Al-Azhar Perbolehkan Pernikahan Paruh Waktu

“Pernikahan ini akan mengurangi perceraian dan masalah perkawinan karena Mesir memiliki lebih dari 2,5 juta perceraian,”

Diterbitkan

on

Pernikahan Paruh Waktu (suara pakar)
Foto ilustrasi pernikahan. (Sumber: Lokadata)

Suarapakar.com – Ulama yang juga Profesor Perbandingan Yurisprudensi Universitas Al Azhar, Dr Ahmed Karima berpendapat bahwa pernikahan paruh waktu sah dan diperbolehkan. Hal itu pun langsung memicu kemarahan warga Mesir.

Dalam sebuah acara bincang-bincang televisi Mesir, Karima mengatakan bahwa syarat untuk menikah dalam syariah Islam adalah persetujuan antara dua pasangan, saksi, dan mahar.

“Jika syarat-syarat itu terpenuhi, maka perkawinan itu menjadi sah, dan mengandung hak-hak, termasuk warisan bersama, hidup bersama, dan kenikmatan dengan cara yang sah,” katanya seperti dikutip dari Sindonews, Senin (23/8/2021).

“Seseorang tidak dapat melarang atau mengkriminalisasi pernikahan paruh waktu, selama kontrak pernikahan memenuhi persyaratan. Berbeda dengan nikah mut’ah yang dibatasi waktu satu atau dua bulan atau lebih, yang batal dalam Islam, nikah paruh waktu adalah sah,” lanjutnya.

Sebelumnya, ide pernikahan paruh waktu awalnya diusulkan oleh pengacara Ahmed Mahran. Ia mengungkapkan hal itu dalam sebuah posting di halaman Facebook-nya.

“Pernikahan ini akan mengurangi perceraian dan masalah perkawinan karena Mesir memiliki lebih dari 2,5 juta perceraian,” ucapnya.

Baca juga: Gunakan Pesawat TNI AU, Indonesia Evakuasi 26 WNI dari Afghanistan

Pernikahan Paruh Waktu Diperbolehkan, Warga Mesir Marah

Orang-orang Mesir bereaksi keras terhadap gagasan pernikahan paruh waktu Ulama Al-Azhar di media sosial. Banyak yang menganggap itu dilarang oleh syariah Islam dan mengatakan gagasan itu harus dikubur.

“Apakah orang-orang ini (yang menyarankan pernikahan paruh waktu) manusia?” kata salah seorang warga setempat yang mengecam gagasan tersebut, Sherine Hilal.

Para warga lainnya menganggap bahwa Ahmed Mahran sedang mencari penghancuran nilai-nilai keluarga, menyebarkan amoralitas dan memfasilitasi perzinaan.

Selain itu, beberapa warga Mesir pengguna media sosial beranggapan jika pernikahan paruh waktu dilegalkan, wanita akan menjadi komoditas yang murah dan memalukan. Menurut mereka, hal itu akan membuat wanita setiap hari akan menikah paruh waktu, dan pria akan memanfaatkan celah ini.

Mereka juga menyerukan Al Azhar, otoritas agama tertinggi di Mesir itu untuk memberikan pendapat yang pasti tentang keabsahan pernikahan semacam itu.

Sekitar 200.000 pasangan menikah bercerai setiap tahun di Mesir, dan menurut Presiden Abdel Fatah Al Sisi, penelitian menunjukkan bahwa 40 persen pernikahan berakhir dalam lima tahun pertama.

Dalam nada yang sama, Wakil Menteri Kesehatan dan Pengawas Umum Dewan Kependudukan, dan Anak-anak dan Ibu, Maysa Shawky, mengatakan pada 2017 tingkat perceraian di kota-kota Mesir meroket menjadi 60,7 persen. Sedangkan beberapa desa melaporkan 39,3 persen.

KELASTRADING

Berita Populer