Connect with us

Kriminal

Perkara Dugaan Pemalsuan Akta, Korban Pertanyakan Penerbitan Akta No 8

Agar Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk melakukan rekonstruksi para saksi yang sudah diperiksa dan yang belum diperiksa saat pembuatan akta.

Diterbitkan

on

Perkara Dugaan Pemalsuan Akta, Korban Pertanyakan Penerbitan Akta No 8 (suara pakar)
Saksi Antoni saat memberikan keterangan di hadapan majelis hakim dalam sidang lanjutan perkara dugaan akta palsu atas terdakwa David Putra Negoro alias Lim Kwek Liong, yang berlangsung di ruang Cakra VI, Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (12/10/2021). (Foto: Ilham/Suara Pakar).

Suarapakar.com – Sidang perkara dugaan akta palsu dengan terdakwa David Putra Negoro alias Lim Kwek Liong kembali berlanjut di ruang Cakra VI Pengadilan Negeri Medan, Selasa (12/10/2021).

Pada persidangan kali ini salah seorang cucu almarhum Jong Tjin Boen bernama Antoni, dihadirkan sebagai saksi untuk memberikan keterangannya di hadapan majelis hakim diketuai Dominggus Silaban.

“Apa yang saudara ketahui dari masalah yang menjadi perkara ini? Saudara tau tidak soal akta nomor 8 itu?,” tanya Ketua majelis hakim, Dominggus Silaban kepada saksi, Antoni.

Menjawab pertanyaan dari majelis hakim, saksi Antoni mengaku mengetahui adanya persoalan mengenai akta nomor 8 tentang perjanjian kesepakatan itu baru setelah diproses hukum di kepolisian.

“Sebelumnya saya tidak tahu pak, tapi belakangan setelah di polisi baru saya tau. Beberapa kali saya juga dipanggil ditanya-tanya soal masalah itu,” sebut Antoni di hadapan majelis.

Namun, lagi-lagi anehnya kesaksian yang disampaikan saksi Antoni seolah serupa dengan kesaksian saksi lain yang dihadirkan dalam sidang sebelumnya. Saksi mengaku bahwa para pihak termasuk almarhum kakeknya Jong Tjin Boen hadir saat penandatanganan akta tersebut.

“Waktu itu posisi saya tidak di dalam ruangan mereka berkumpul. Tapi saya dengar isi akta itu dibacakan, ada tentang persentase jumlah yang dibagi-bagikan,” sebutnya.

Baca juga: Pesta Ganja di Kampus USU Dipasok Wanita Asal Aceh

Perkara Dugaan Pemalsuan Akta, Bukti Bertentangan dengan Saksi

Sementara itu, Longser Sihombing SH MH selaku kuasa korban memohon kepada majelis hakim yang memeriksa perkara aquo agar dapat mengeluarkan penetapan atas dugaan keterangan palsu terhadap kedua saksi yang telah berbohong dan agar dapat dilakukan dimulainya penyidikan.

Dirinya juga memastikan bahwa tidak ada pertemuan di rumah Almarhum Jong Tjin Boen yang berada di Jl Juanda Baru no 30 C Medan, Menurutnya, berdasarkan data void di paspor Jong Tjin Boen sejak tanggal 30 Juni 2008 sedang berada di Singapura karena sedang sakit dan tanggal 12 Juli 2008 masuk rumah sakit Mount Elizabeth untuk opname.

“Dari alat bukti yang sah berupa paspor saksi Jong Gwek Jan pada tanggal 13 Juli 2008 beliau ke rumah sakit membusuk ayahnya di Singapura dan pulang ke Indonesia tanggal 10 Agustus 2008, bagaimana caranya saksi ini dan ayahnya tersebut menghadap notaris Fujiyanto Ngariawan SH tgl 21 Juli 20008 yang diuraikan dalam formal dan materi minut akta no 8? Artinya, bertentangan dan keterangan saksi Antony nyata sangat kontradiksi dengan fakta yang ada dan saya pastikan itu tidak benar berdasarkan alat bukti-bukti yang ada,” tegasnya.

Karena itu, fakta menurut alat bukti yang ada bertentangan dan keterangan saksi. Dirinya meminta agar Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk melakukan rekonstruksi para saksi yang sudah diperiksa dan yang belum diperiksa saat pembuatan akta.

“Saudara Antoni mengatakan dia hadir di Rumah Juanda, dan yang membacakan notaris Fujiyanto Ngariawan SH dan pegawainya dan dia mengatakan kalau ia berada di luar. Saya katakan, kalau keterangannya itu palsu, keadaan itu palsu,” pungkasnya.

Reporter: Ilham

KELASTRADING

Berita Populer