Connect with us

Gaya Hidup

Penasaran dengan Keindahan Alamnya, Warga Maluku Keliling Danau Toba Naik Solu

“Dalam ekspedisi ini juga bertujuan mengumpulkan data potensi destinasi wisata yang berada di seputaran Danau Toba serta menggali nilai-nilai luhur adat istiadat masyarakat Danau Toba,”

Diterbitkan

on

Penasaran dengan Keindahan Alamnya, Warga Maluku Keliling Danau Toba Naik Solu (suara pakar)
Komar Buton, warga Maluku yang sedang melakukan ekspedisi keliling Danau Toba. (Foto: Suara Pakar)

Suarapakar.com – Danau Toba sebagai danau vulkanik terbesar di dunia mempunyai nilai history yang panjang dalam peradaban manusia, kawah gunung yang terbentuk dalam tiga kali letusan pada 75.000 tahun yang lalu. Danau Toba yang pada tahun lalu dinobatkan oleh UNESCO sebagai Warisan Dunia Caldera Geo Park, menjadi danau volcano terbesar sebagai warisan dunia yang wajib dilestarikan.

Banyak wisatawan lokal bahkan mancanegara yang berkunjung kesini. Ada beberapa dari mereka yang menjadikan Danau Toba sebagai kunjungan wisata budaya, pendidikan, petualangan dan bisnis di bidang pariwisata.

Komar Buton atau yang biasa dipanggil Marco asal Desa Wamlana Kabupaten Buru, Maluku, alumni perguruan tinggi MPU Tantular yang berada di Jakarta, saat ini sedang melaksanakan ekpedisi lingkar luar Danau Toba menggunakan perahu Solu, Minggu (11/7/2021).

Ekpedisi yang bertajuk Solo Solu Tao Toba Nauli 2021 lingkar luar Danau Toba, dengan kegiatan XPDC ini telah melakukan ekspedisi selama 41 hari. Perjalanan yang ditempuh mulai 1 juni diperkirakan selesai pada 20 Juli 2021. Ekpedisi ini melewati 16 desa yang berada di pesisir danau Toba berjarak 300 km.

Marco menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan suatu informasi kepada khalayak luas dengan skala potensi yang sangat kompleks, yakni mempromosikan Solu sebagai wahana wisata air dan juga melestarikan budaya bahari yang ada di danau Toba dan Indonesia.

Dimana, Solu sendiri adalah perahu kecil sebagai alat transportasi yang biasa digunakan oleh penduduk di sekitaran Danau Toba. Solu (perahu) biasanya digunakan oleh penduduk lokal untuk transportasi pencari ikan di seputaran danau Toba.

“Dalam ekspedisi ini juga bertujuan mengumpulkan data potensi destinasi wisata yang berada di seputaran Danau Toba serta menggali nilai-nilai luhur adat istiadat masyarakat Danau Toba,” ujarnya.

“Selain itu, mengkampanyekan kelestarian lingkungan yang ada di Danau Toba”, lanjut pria yang pernah menangani operator wisata arung jeram yang berada di desa Cianten Bogor Jawa Barat.

Komar Buton, warga Maluku yang sedang melakukan ekspedisi keliling Danau Toba, (Foto: Suara Pakar)

Baca juga: Baru 37,36 Persen, KemenPUPR Lanjutkan Proyek Irigasi Food Estate Sumut

Masyarakat Danau Toba yang Sangat Ramah

Dalam ekspedisi ini, ditambahkan Marco, mencari pemuktahiran data kondisi perairan Danau Toba terkini. Serta ingin memecahkan rasa penasarannya dengan melihat langsung karakter masyarakat Danau Toba yang kata sebagian orang perairan Danau Toba seram dan masyarakat yang sangar.

“Saya sangat kaget saat berbaur dengan masyarakat di Danau Toba, ternyata karakternya sangat berbeda dari yang saya dengar di masyarakat luas di luar Toba, masyarakat disini sangat ramah dan alamnya yang sangat indah”, ungkap Marco, yang juga penggiat olah raga dayung di salah satu komunitas pencinta alam UMTALA 1988.

Terakhir, Marco mengajak masyarakat di seputaran Danau Toba untuk selalu menjaga kearifan lokal dan menjaga kelestarian alam. Menurutnya, dengan pemandangannya yang indah dari Danau Toba, pastinya akan membuat para wisatawan betah berlama-lama disini.

Apalagi, sudah banyak wisatawan yang melakukan perjalanan ekspedisi di Danau Toba, baik menggunakan sepeda, motor trial, kayak dan solu.

“Ini anugerah dari Tuhan” terangnya.

Dalam perjalanan ekspedisi ini, Marco didukung oleh komunitas dayung PODSI Kabupaten Toba, penggiat wisata kayak dan seluruh penduduk yang berada di pinggiran Danau Toba.

GRANPRIZE

Berita Populer