Connect with us

Ekonomi

Pemerintah Akan Impor 3,07 Juta Ton Garam Tahun 2021

Data KKP menunjukkan jumlah produksi garam lokal hanya sebanyak 1,3 juta ton pada tahun lalu, sedangkan kebutuhan garam nasional 4,6 juta ton.

Diterbitkan

on

Impor 3,07 Juta Ton Garam (suara pakar)
Petani saat memanen garam. (Sumber: Voi)

Suarapakar.com – Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan bahwa pemerintah menyepakati alokasi impor garam industri sebanyak 3,07 juta ton pada tahun 2021. Hal itu untuk mencukupi kebutuhan garam nasional yang mencapai 4,6 juta ton pada 2021.

Dijelaskan Agus, sebanyak 1,5 juta ton garam akan dipenuhi dari produksi garam lokal. Rinciannya, 1,2 juta ton dari industri besar pengolahan garam dan 300 ribu ribu dari Industri Kecil Menengah (IKM).

“Untuk menjamin ketersediaan bahan baku garam bagi industri dalam negeri, pada 2021 telah disepakati alokasi impor komoditas pergaraman industri sebesar 3,07 juta ton,” ungka Agus dalam Webinar National Webinar SBE UISC 2021 x FDEP: Industrialisasi Garam Nasional Berbasis Teknologi sebagaimana dikutip dari cnnindonesia, Sabtu (24/9/2021).

Agus menyebutkan bahwa pihaknya memberikan izin impor garam untuk empat sektor usaha. Beberapa sektor itu, antara lain khlor alkali, aneka pangan, farmasi dan kosmetik, dan pengeboran minyak.

“Sektor industri lain di luar yang disebutkan tadi diminta untuk menggunakan bahan baku garam hasil produksi dalam negeri,” kata Agus.

Baca juga: Sri Mulyani: Performa APBN 2021 Meningkat, Pajak Tumbuh 9,5 Persen

Alasan Pemerintah Impor 3,07 Juta Ton Garam Tahun Ini

Diungkapkan Agus, pemerintah masih harus mengimpor garam karena beberapa faktor. Pertama, jumlah produksi lokal tak mampu memenuhi kebutuhan industri.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan jumlah produksi garam lokal hanya sebanyak 1,3 juta ton pada tahun lalu. Jumlahnya masih jauh dari kebutuhan garam nasional yang mencapai 4,6 juta ton.

Kedua, kualitas garam lokal tak sepadan dengan kebutuhan industri. Menurut Agus, industri membutuhkan garam dengan spesifikasi cukup tinggi.

“Baik dari sisi kandungan NaCl maupun cemaran-cemaran logam yang cukup rendah,” terang Agus.

Ketiga, kepastian pasokan garam. Industri melakukan produksi sepanjang tahun.

“Dengan demikian kontinuitas pasokan bahan baku sangat diperlukan,” imbuhnya.

Ia menambahkan, manufaktur menjadi industri yang membutuhkan garam terbanyak, yakni 84 persen dari total kebutuhan garam nasional yang mencapai 4,6 juta.

Dicontohkan Agus, sektor khlor dan alkali merupakan turunan dari industri manufaktur membutuhkan garam 2,4 juta ton per tahun. Sektor khlor dan alkali menghasilkan produk petrokimia, pulp, dan kertas.

“Angka kebutuhan garam sebagai bahan baku dan bahan penolong bagi industri tentu terus meningkat seiring dengan adanya pertumbuhan industri pengguna garam sebesar 5-7 persen per tahun,” pungkasnya.

Berita Populer