Connect with us

Budaya

Melenggang di Milan Fashion Week, Batik Durian Mendunia

“Ada sambutan positif dari berbagai pihak di Italia atas partisipasi dan diplomasi. Motif batik mulai dikenal tidak hanya kekhasannya tapi juga prosesnya yang ramah lingkungan,”

Diterbitkan

on

Batik Durian Mendunia (suara pakar)
Batik durian melenggang di ajang mode kenamaan dunia, Milan Fashion Week 2021, (Sumber: Suara)

Suarapakar.com – Batik durian sudah ‘melenggang’ ajang mode kenamaan dunia, yakni Milan Fashion Week 2021. Dengan begitu, batik asal Sumatera Selatan, khususnya Kota Lubuklinggau itu kini telah mendunia.

Jenny Yohana Kansil, founder Instituto di Moda Burgo Indonesia, melihat batik durian mampu merepresentasikan koleksinya. Lewat label JYK, batik durian pun diboyong untuk dipamerkan di Palazzo Visconti untuk ajang Milan Fashion Week 2021.

Koleksi Spring/Summer 2022 bertajuk ‘Revolutionary Hope’ hadir dalam 10 look busana. Situasi pandemi menuntut orang untuk beradaptasi juga membuat gebrakan. Jenny berkata gebrakan ini lebih pada dari dalam diri yakni lewat harapan (hope). Durian dirasa mampu menggambarkan tema.

“Durian dari luar kelihatannya enggak enak. Orang mikir, apa ini? Penuh duri, baunya tajam. Tapi bagian dalamnya sangat lembut. Durian mampu menggambarkan harapan. Luarnya keras, mau mendapatkan daging duriannya kan berjuang banget (tapi perjuangan membuahkan hasil manis),” jelas dia sebagaimana dikutip dari cnnindonesia, Kamis (14/10/2021).

Batik dibuat dengan pewarna alam. Jengkol memberikan warna cokelat pekat yang cantik, sedangkan pinang memberikan warna cokelat yang cerah dan lembut. Di samping batik, busana juga menggunakan material vegan leather dari Bell Society.

Tak disangka batik disambut hangat dan positif di Italia. Wakil Kepala Perwakilan (Wakeppri) RI di Roma, Lefianna Hartati Ferdinandus menyebut upaya penguatan diplomasi wastra Indonesia perlu terus dilakukan.

“Ada sambutan positif dari berbagai pihak di Italia atas partisipasi dan diplomasi. Motif batik mulai dikenal tidak hanya kekhasannya tapi juga prosesnya yang ramah lingkungan,” katanya.

Berkat turut serta di ajang mode internasional, batik durian makin ramai peminat. Rina mengaku sambutan dan dampak keikutsertaan batik durian di Milan Fashion Week benar-benar di luar ekspektasinya.

“Minat melonjak, luar biasa. Kami akan terus berusaha untuk tidak mengecewakan peminat,” imbuhnya.

Baca juga: Jangan Asal Makan, Ini Waktu Ideal untuk Sarapan Menurut Ahli

Awal Lahirnya Batik Durian

Batik durian awalnya lahir dari kegelisahan Yetti Oktarina Prana, Ketua Dekranasda Lubuklinggau. Perempuan yang akrab disapa Rina Prana ini bercerita Lubuklinggau merupakan kota pemekaran sehingga ada kebutuhan untuk menghadirkan ciri khas kota. Ciri khas inilah yang akan jadi daya tarik sekaligus menumbuhkan potensi ekonomi masyarakat.

“Batik pertama kali ada di 2013, tidak lama setelah suami (SN Prana Putra Sohe) dilantik jadi walikota dan saya jadi Ketua Dekranasda. Lembar pertama selesai dibuat Juni 2013,” kata Rina dalam konferensi pers virtual, Rabu (13/10/2021).

Durian merupakan hasil alam kebanggaan Lubuklinggau. Rina menuturkan salah satu wilayah Lubuklinggau mengelola perkebunan durian secara tradisional. Durian tidak pernah dipetik. Para petani benar-benar menunggu durian sampai matang di pohon lalu jatuh dengan sendirinya.

Sebenarnya tidak hanya batik, Lubuklinggau juga mengembangkan kain seperti songket dan tenun. Namun perkembangan batik lebih pesat dari kain-kain lain. Ini mengingat material mudah didapat, produksi tidak memakan waktu lama dan harga jual miring.

“Beberapa tahun terakhir, orang mulai hapal, (lihat batik durian) oh ini pasti dari Linggau nih,” kata Rina sumringah.

Rupa buah durian langsung bisa dikenali karena duri-durinya. Awalnya, lanjut Rina, tampilan durian pada batik konsisten dilukiskan terbelah dan memperlihatkan daging buah.

Namun motif pun semakin kaya sehingga durian ada yang dibuat utuh atau bahkan dilukis masih ‘bertengger’ di pohon.

KELASTRADING

Berita Populer