Connect with us

Nasional

Kisah Tumanggor, Petugas Damkar Dilempar Batu Saat Padamkan api

“Karena mereka anggap kami lamban, mereka melempari kami dengan bantu sembari mencaci-maki kami,”

Diterbitkan

on

petugas damkar
Sayang Tumanggor (baju merah) bersama rekan-rekannya (foto : ilham)

Suarapakar.com – Sudah 29 tahun Sayang Tumanggor (48), menjadi petugas Damkar. Selama menjadi petugas pemadam kebakaran (Damkar), banyak suka dan duka yang sudah dia rasakan.

Kepada suarapakar.com,  warga Jalan Setiabudi, Kelurahan Tanjung Sari, Pasar II, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan ini menceritakan kisahnya.

Tumanggor pertama kali bekerja di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Medan tahun 1992, setelah menerima informasi lowongan kerja dari saudara kandungnya. Dan pada April 2021 nanti, Tumanggor sudah 29 tahun kerja di Damkar.

Dia mengatakan, ada suka dan duka selama 29 tahun menjadi petugas pemadam kebakaran.

“Kalau suka duka pasti ada, namanya bekerja sebagai penyelamat, apalagi sudah 29 tahun,” ujarnya, Senin (8/2/2021).

Tumanggor menyebut, duka yang dia rasakan terjadi pada tahun 2001 silam. Saat terjadi peristiwa kebakaran hebat. Saat itu dia dan timnya berjibaku untuk memadamkan api. Namun, kobaran api yang besar menyulitkan dia dan petugas lain untuk memadamkan si jago merah. Akibatnya,  oknum pemuda setempat melempari Tumanggor dan teman-temannya karena kesal, bahkan mereka mencaci maki Tumanggor dan timnya.

“Karena mereka anggap kami lamban, mereka melempari kami dengan bantu sembari mencaci-maki kami,” sebut Tumanggor.

Walaupun kerap mendapat caci makian, namun Tumanggor dan teman-temannya juga akan mendapat pujian apabila cepat memadamkan api.

“Hal itu sudah biasa, semua itu risiko pekerjaan, kalau pujian jadikan bonus, kalau cacian sebagai ketabahan,” ucap Tumanggor.

Tumanggor mengatakan, sudah puluhan ribu kasus kebakaran yang sudah dia jalani. Baik kebakaran biasa maupun besar.

Baca juga: Buat Laporan Palsu Kebakaran, Ini Sanksinya

Turut Padamkan Api di Peristiwa Mandala Airlines dan Hercules

Bahkan, selain peristiwa kebakaran rumah, Tumanggor juga pernah melibatkan diri saat peristiwa pesawat Mandala Airlines yang jatuh tahun 2005 dan pesawat Hercules pada tahun 2015 lalu di Kota Medan.

Tumanggor mengaku, hanya mendapat upah honorer Rp 60 ribu perbulan, padahal tantangan besar bahkan nyawa dia pertaruhkan dengan pekerjaannya tersebut.

Bahkan Tumanggor menyebutkan, upah yang dia terima pernah keluar per tiga bulan sekali, misalnya anggaran bulan empat nanti di bulan tujuh baru keluar.

“Kadang belum sampai gajian tiba uang sudah habis buat ongkos dan makan terpaksa harus utang sama teman ataupun terkadang sama tetangga,” kata Tumanggor.

Namun, dengan rasa cinta dan jiwa kemanusiaan, membuat ayah anak dua tersebut pada tahun 2007 dinaikkan statusnya dari pekerjaan honorer menjadi aparatur sipil negara (ASN)

Bahkan hingga sampai saat ini, ia ditunjuk sebagai komandan regu dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Medan karena keteguhan dan keikhlasan hatinya selama bertugas di Damkar tersebut.

Reporter : Muhammad Ilham Pradila

Berita Populer