Connect with us

Peristiwa

Keluarga Korban Angkot Maut 123 Minta Sopir Dihukum Berat

Kejadian ini membuat dua anak Asma, harus kehilangan ibu mereka dan menjadi piatu.

Diterbitkan

on

Keluarga Asma Nur (42) dan Faida Naila Harahap (7), korban angkot maut yang ditabrak kereta api di Jalan Sekip, Medan. (Foto: Ilham/Suara Pakar)

Suarapakar.com – Keluarga Asma Nur (42) dan Faida Naila Harahap (7) yang menjadi korban angkot maut yang ditabrak kereta api yang menerobos palang pintu, minta sang sopir dihukum berat.

Asma dan Faida merupakan dua dari 4 korban yang meninggal dunia akibat sopir angkot KPUM 123 BK 1610 UE, Harto Manalu (43) terobos palang pintu kereta api. Lamsari Harahap selaku kakak ipar Asma Nur, mengungkapkan bahwa akibat ulah sang sopir angkot yang menerobos palang kereta api, kedua anggota keluarganya harus menjadi korban jiwa.

“Kami dari keluarga berharap sopir angkot itu dihukum seadil-adilnya. Dua keluarga kami jadi korban,” ungkap Lamsari, kepada wartawan saat ditemui di rumah duka, Jalan Karya Lingkungan II Gang Karang Anyar, Kecamatan Medan Barat.

Beredar kabar, bila sopir angkot maut warga Jalan Batangkuis Tanjung Morawa itu mabuk hingga nekat menerobos palang perlintasan kereta api di Jalan Skip Medan, Kelurahan Sei Agul, Kecamatan Medan Barat, Sabtu (4/12/2021) sore.

https://bit.ly/kodesuarapakar

Baca juga: Ada Ibu dan Anak, Ini Identitas Korban Tewas Angkot Diseruduk Kereta Api

Tinggalkan 2 Anak, Asma dan Faida Dimakamkan Satu Liang Lahat

Lamsari mengatakan, meninggalnya Asma membuat duka mendalam bagi keluarga. Kedua korban yang merupakan ibu dan anak itu dikebumikan pihak keluarga di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pasar V Helvetia, Kabupaten Deli Serdang, Minggu (5/12/2021).

Peristiwa tragis ini, membuat dua anak Asma harus menjadi piatu dengan usia yang masih belia. Lamsari menyebut almarhumah memiliki 3 orang anak termasuk Faida Naila Harahap, yang merupakan anak bungsu.

“Keponakan saya itu cuma satu orang yang dibawanya. Itu yang paling kecil. Anak korban cuma 3 orang,” sebutnya.

Lamsari menjelaskan sebelumnya adik iparnya tersebut baru saja sampai di Kota Medan sepulangnya dari Aceh. Hingga pukul 23.00 WIB, dia dan keluarga mendapat kabar duka dari kepala lingkungan (Kepling).

“Jadi mereka naik BTN lalu nyambung angkot. Sore itu nomor adik saya ini sudah tidak aktif sampai malam. Kami tahunya ketika kepala lingkungan sini nelpon, kalau adik saya itu jadi korban,” tuturnya.

Reporter: Ilham

Berita Populer