Connect with us

Nasional

Kasus Satwa Dilindungi di Rumah Bupati Langkat Disidik

“SPDP temuan satwa langka ilegal dari BKSDA sudah dikirim ke Dit Reskrimsus Polda Sumut. Kemudian diteruskan dan diserahkan ke Kejati Sumut pada Tanggal 8 Februari 2022 lalu,”

Diterbitkan

on

Satwa Liar Dilindungi Diamankan dari Rumah Bupati Nonaktif Langkat (suara pakar)
Petugas mengevakuasi Monyet hitam Sulawesi dari rumah pribadi Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Peranginangin. (Sumber: BBKSDA)

Suarapakar.com – Kasus satwa langka dan dilindungi di rumah pribadi Bupati Langkat Nonaktif Terbit Rencana Peranginangin disidik.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Hadi Wahyudi mengatakan, proses sidik tersebut dilakukan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumut bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut.

“BBKSDA berkoordinasi dengan Korwas Dit Reskrimsus Polda Sumut untuk menyidik temuan satwa langka ilegal di rumah pribadi Terbit Rencana Perangin-angin,” kata Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Hadi Wahyudi, Rabu (16/2/2022).

Menurutnya, koordinasi yang dilakukan BBKSDA dengan Korwas Dit Reskrimsus Polda Sumut untuk penyelesaian perkara yang tengah disidik.

“SPDP temuan satwa langka ilegal dari BKSDA sudah dikirim ke Dit Reskrimsus Polda Sumut. Kemudian diteruskan dan diserahkan ke Kejati Sumut pada Tanggal 8 Februari 2022 lalu,” terang Hadi.

Pelihara Satwa Dilindungi, Bupati Langkat Nonaktif Terancam Penjara 5 Tahun

Kasus satwa dilindunsi di rumah pribadi Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Peranginangin membuat heboh. Kehebohan tersebut menambah setelah kasus sebelumnya OTT KPK dan kerangkeng manusia.

Evakuasi dilakukan BBKSDA Sumut bersama Balai Gakkum Wilayah Sumatera dan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Center (YOSL-OIC) di rumah pribadi Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Peranginangin di Desa Raja Tengah, Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat

Ada pun satwa liar dilindungi yang dievakuasi dari rumah Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Peranginangin tersebut, satu individu Orangutan Sumatera (Pongo abelii) jantan, satu individu Monyet Hitam Sulawesi (Cynopithecus niger). Lalu, satu ekor burung Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus), 2 ekor Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) dan 2 individu Beo (Gracula religiosa).

Semua satwa yang diamankan oleh petugas tersebut merupakan jenis satwa yang dilindungi sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo.

Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar jo. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/ 12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi.

Pasal 21 ayat 2a Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 mengatur bahwa setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Dan pasal 40 ayat 2 mengatur pula barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.

Berita Populer