Connect with us

Nasional

Kasus Covid-19 Melonjak, DPR Minta Kemdikbudristek Segera Putuskan PJJ

“Berdasarkan informasi yang diterima dari Satgas Penanganan Covid, ada lebih dari 260 ribu anak terpapar, sehingga kita harus sangat sigap membuat keputusan yang akan kita ambil terkait pembukaan tahun ajaran baru,”

Diterbitkan

on

DPR Minta Kemdikbudristek Segera Putuskan PJJ (suara pakar)
Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah. (Foto: Dokumentasi DPR/Arief)

Suarapakar.com – Komisi X DPR RI meminta Kemdikbudristek serta pemerintah daerah untuk segera mengambil keputusan tentang metode pembelajaran pada pembukaan pendidikan tahun ajaran baru.

Hal itu disampaikan oleh anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah menanggapi pengumuman Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali akibat terjadinya lonjakan kasus Covid-19 di tanah air terhitung sejak tanggal 3 hingga 20 Juli 2021.

“Tahun ajaran baru sudah akan dimulai pada pertengahan Juli 2021. Artinya masih dalam suasana PPKM di Jawa dan Bali, maka harus ada kebijakan yang jelas dan pasti bagi sekolah agar mereka bisa fokus mempersiapkan diri,” tutur Ledia dalam keterangan persnya sebagaimana dikutip dari laman resmi DPR, Rabu (7/7/2021).

“Menimbang situasi yang ada, maka keputusan memperpanjang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah bagi anak sekolah semestinya segera diambil, demi kemaslahatan kita bersama,” kata Ledia lagi.

Politisi Fraksi PKS itu menegaskan bahwa lonjakan kasus Covid-19 ini patut menjadi perhatian semua pihak. Apalagi, sebagian besar kasus diketahui akibat varian Covid-19 Delta, yang dinilai lebih ganas dan lebih cepat penyebarannya.

Selain itu, Ledia juga memperhatikan jumlah kasus Covid-19 pada anak yang semakin bertambah.

“Berdasarkan informasi yang diterima dari Satgas Penanganan Covid, ada lebih dari 260 ribu anak terpapar, sehingga kita harus sangat sigap membuat keputusan yang akan kita ambil terkait pembukaan tahun ajaran baru,” ungkap Ledia.

Baca juga: Banggar DPR: RAPBN 2022 Disusun Dengan Ketidakpastian

Masih Berbahaya, Positivity Rate Indonesia di Kisaran 30 Persen

Lebih lanjut Ledia menjelaskan, berdasarkan keterangan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) maupun Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), indikator positivity rate pelaksanaan pembelajaran tatap muka adalah di bawah 5 persen, atau setidaknya di bawah 10 persen.

Namun hingga saat ini, angka positivity rate Indonesia masih di kisaran 30 persen. Menurutnya, kondisi ini masih berbahaya jika ingin melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Oleh karena itu, ia berharap Kemendikbudristek dan pemerintah daerah lebih cepat bertindak supaya sekolah, pendidik, tenaga kependidikan serta orangtua bisa segera fokus merencanakan program. Sekaligus metode pembelajaran mulai seperti sarana dan prasarana kegiatan ajar mengajar dan rencana pencapaian kurikulum.

Baginya, dengan melihat situasi dan kondisi pandemi Covid-19 terkini, Indonesia masih perlu memperpanjang PJJ demi keselamatan, kesehatan dan kenyamanan anak didik, pendidik, tenaga kependidikan dan orangtua.

GRANPRIZE

Berita Populer