Connect with us

Ekonomi

Impor Beras 1 Juta Ton, Faisal Basri: Ganti Saja Segera Menteri Bapak

Faisal Basri “Bapak Presiden, ganti saja segera menteri-menteri Bapak yang gandrung mengimpor,”

Diterbitkan

on

faisal basri kritik soal impor 1 Juta Ton Beras (suara pakar)
Ekonom Senior Faisal Basri, (Sumber: monitor.co.id/suara pakar)

Suarapakar.com – Ekonom Senior Faisal Basri mengkritik rencana pemerintah untuk melakukan impor beras 1 juta ton tahun 2021. Setengahnya digunakan untuk meningkatkan cadangan beras pemerintah (CBP) dan separuh lagi untuk memenuhi kebutuhan Bulog.

Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi membuat kesalahan pada tahun 2018 terulang kembali. Pengumuman impor beras 1 juta ton secara langsung memengaruhi psikologi pasar yang cenderung menurunkan harga jual di tingkat petani, apalagi petani sedang menyongsong masa panen raya di April-Mei 2021.

“Sebelum pengumuman impor saja harga gabah di tingkat petani sudah cenderung tertekan. Sekalipun harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani pada Januari 2021 naik 3 persen dibandingkan Desember 2020, masih lebih rendah dibandingkan Januari tahun lalu (year-on-year) atau turun sebesar 6,7 persen,” ujarnya mengutip dari blog resmi Faisal Basri, Senin (15/3/2021).

“Untuk harga gabah kering giling (GKG) lebih parah lagi, yaitu turun 0,73 persen dibandingkan bulan sebelumnya (Desember 2020) dan turun tajam sebesar 8,28 persen dibandingkan Januari 2020,” tambahnya.

Lebih lanjut, Faisal Basri katakan, stok akhir pada akhir 2020 memang di bawah 1 juta ton. Namun, peningkatan produksi beras yang cukup tajam, khususnya pada April-Mei, sudah ada di depan mata.

“Dengan tekat kuat dan kerja keras, insya Allah kita bisa mengandalkan produksi petani dan meningkatkan kesejahteraan puluhan juta keluarga tani. Bukankah itu janji Presiden Jokowi pada masa kampanye Pilpres 2014?,” tegasnya.

“Stok tidak perlu lagi sebanyak tahun-tahun sebelumnya karena penugasan untuk penyaluran CBP yang bersifat rutin tidak lagi sebesar sebelumnya,” sambungnya.

Oleh karena itu, Faisal Basri meminta kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengganti para menteri-menterinya yang gandrung mengimpor.

“Bapak Presiden, ganti saja segera menteri-menteri Bapak yang gandrung mengimpor,” ungkapnya.

“Mereka mau gampangnya saja, lebih mengedepankan value extraction alias percaloan yang menguntungkan segelintir orang ketimbang value creation dengan kebijakan kreatif dan inovatif yang menaburkan maslahat bagi banyak orang,” tandasnya.

Baca juga: Setelah Batubara, Jokowi Juga Hapus Sawit Dari Daftar Limbah B3

faisal basri kritik impor besar (suara pakar)

Soal Impor Beras 1 Juta Ton, Mengguntungkan Praktik Rente

Selain itu, Faisal mengatakan bahwa harga beras di Indonesia juga lebih stabil dari harga beras di pasar internasional yang mengacu pada harga beras Thailand maupun Vietnam. Sejak akhir 2019, harga beras Vietnam meningkat dari US$325,79/mt (setara dengan Rp4.724/kg) pada Oktober 2019 menjadi US$500,48/mt (Rp7.256/kg) pada Februari 2021 (kurs Rp14.500).

“Beras Thailand naik dari US$421/mt (Rp6.105/kg) pada November 2019 menjadi US$557/mt (Rp8.077/kg) pada Februari 2021,” ungkapnya.

Faisal Basri menilai, praktik pemburuan rente berupa bagi-bagi kuota impor sudah lama menjadi kelaziman dalam berbagai komoditas strategis seperti beras, gula, garam, daging, serta bawang putih. Pemicunya adalah selisih harga yang relatif lebar antara harga domestik dengan harga internasional.

“Lebih menggiurkan lagi, volume impornya relatif sangat besar, mencapai jutaan ton untuk tiga komoditas pertama,” pungkasnya.

Berita Populer