Connect with us

Al Islam

Jangan Marahi Suami, Ini Beban Suami dalam Ajaran Islam

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), …” (Surat ke-4 An Nisaa, ayat 34).

Diterbitkan

on

Jangan Marahi Suami (suara pakar)
Jangan Marahi Suami karena itu adalah perbuatan durhaka pada suami (nusyuz). Cukup sampaikan secara lembut!. Insya Allah, Allah akan melembutkan hati suamimu. (foto: Suara Pakar).

Suarapakar.com – Kebahagiaan seorang suami sekaligus menjadi kebahagiaan rumah tangga, sejatinya terletak pada istri yang sholihah. Maka Jangan marahi suami! Karena akan menurunkan derajat kesholihan seorang istri.

Dalam sebuah hadits shahih yang populer dari Abdullah bin Amr, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang sholihah.” (Hadits Riwayat Muslim).

Maka ajaran Islam menganjurkan laki-laki muslim yang belum menikah, akan beruntung bila kamu memilih seorang istri dari sudut pandang kesholihannya.

Sebagaimana dalam keterangan hadits berikut,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِاَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَماَ لِهَا وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. (أخرجه البخاري في كتاب النكاح)

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu (ia berkata), dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

“(Boleh memilih) Kamu nikahi perempuan itu karena empat perkara, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya.

Maka (yang terbaik) hendaklah engkau memilih (perempuan) yang baik agamanya (sholihah), niscaya kamu akan beruntung.” (Hadits Riwayat Bukhari dalam Kitab Nikah).

Baca juga: Ini Awal Poligami Rasulullah, Saudah Ikhlas Bermadu Aisyah

Ini Beban Berat Suami dalam Ajaran Islam, Jangan Marahi Suami!

Selain tanggungjawab mahar dan nafkah sandang pangan, ternyata beban terberat suami adalah membimbing istri untuk istiqomah menjadi sholihah.

Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Surat ke-66 At Tahrim, ayat 6).

Umumnya perempuan yang tidak memiliki dasar agama yang baik, akan merasa tertekan dengan batasan-batasan dirinya dalam ajaran Islam.

Padahal batasan-batasan tersebut akan melindunginya dari perbuatan dosa yang peluangnya memang cukup besar pada perempuan.

Mulai dari menutup aurat, larangan berdandan untuk laki-laki lain, tidak boleh meninggikan suara pada suaminya, patuh kepada nasehat suaminya, menjaga diri ketika suaminya tidak di rumah, meminta izin suami ketika hendak keluar rumah, mengurus anak dan rumah, dan seterusnya.

Menjadikan kesan bahwa batasan dan pekerjaan tersebut merupakan beban berat istri dalam rumah tangga. Sehingga muncul perkataan sesat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, ‘mau cari istri apa mau cari pembantu mas?’.

Menjawab pertanyaan seperti itu, katakan saja, “memang mau cari pembantu, yang diangkat Allah derajatnya sebagai istri sholihah.”

Begitu banyak perempuan yang mendambakan hal itu (terangkatnya derajat mereka sebagai istri sholihah dari suami yang sholih) tetapi belum ada juga yang mau melamarnya. Semoga Allah melapangkan jodoh mereka. Aamiin.

Bersyukurlah para istri yang mendapatkan suami sholih. Ia memilihmu dari sekian banyak perempuan untuk mengangkat derajatmu menjadi istri sholihah.

Kebanyakan laki-laki memilih perempuan yang tidak sholihah, akhirnya ia kesulitan untuk membimbing dan menjaganya. Hingga tidak sedikit yang berakhir dengan perpisahan menyakitkan. Subhanallah, Na’udzubillah min dzalik.

Suami dan Istri akan Dimintai Pertanggungjawabannya di Hadapan Allah

Mari kita kita camkan hadits ini!

وعن بن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلّم قال: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعيّتِهِ, والأميرُ راعٍ, والرّجُلُ راعٍ على أهلِ بيتِهِ, والمرأةُ رَاعِيَّةٌ على بيتِ زوجِها وَوَلَدِهِ, فكلّكم راعٍ وكلّكم مسئولٌ عنْ رَعِيَّتِهِ. (متفق عليه

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa ia mendengar Rasulullah telah bersabda,

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.

Imam (kepala Negara) adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya.

Seorang suami dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas keluarganya.

Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya dan akan diminta pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut.

Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya dan akan diminta pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.” (Hadits Riwayat Muttafaqun ‘Alaih).

Wallahu a’lam,

Berita Populer