Connect with us

Al Islam

Islam Mengharamkan Rasisme! Hanya Ketakwaan yang Membuat Mulia!

Diterbitkan

on

Islam Mengharamkan Rasisme
Rasisme diharamkan dalam Islam. (foto: suarapakar.com)

Suarapakar.com – Perbedaan suku, bangsa, ras, warna kulit pada manusia merupakan Sunnatullah (taqdir Allah). Islam mengharamkan rasisme, karena hanya ketakwaan seseorang yang membuatnya mulia pada sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menganggap perbedaan biologis pada ras manusia dalam menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya (Dictionary.com)

Sejak 14 abad lalu, ajaran Islam mengharamkan Rasisme. Bagi umat Islam kemuliaan seseorang itu hanya terdapat pada ketakwaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sebagaimana Firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia antara kamu pada sisi Allah ialah orang yang paling takwa antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Surat ke-49 Al Hujurat, ayat 13).

Dalam Tafsir At Thabari menegaskan bahwa ajaran Islam melarang keras sikap Ta’assub, yaitu membela serta membabi buta hanya berdasarkan suku, rasa atau bangsa tertentu, tidak peduli apakah salah atau benar, zhalim atau terzhalimi.

“Yang paling mulia pada sisi Rabb kalian adalah yang paling bertakwa dalam melaksanakan perintah dan menjauhi maksiat. Bukan yang paling besar rumah atau yang paling banyak keluarganya.” (Tafsir At Thabari).

Baca Juga: Wakaf Uang Tidak Dikenal Pada Masa Rasulullah!

Bilal Bin Rabah Seorang Budak yang Mulia di Sisi Allah

Dari Abu Hurairah, beliau berkata,

ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠّﻢَ ﻟِﺒِﻼَﻝٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺻَﻼَﺓِ ﺍﻟْﻐَﺪَﺍﺓِ ﻳَﺎ ﺑِﻼَﻝُ ﺣَﺪِّﺛْﻨِﻲ ﺑِﺄَﺭْﺟَﻰ ﻋَﻤَﻞٍ ﻋَﻤِﻠْﺘَﻪُ ﻋِﻨْﺪَﻙَ ﻓِﻲ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡِ ﻣَﻨْﻔَﻌَﺔً ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺍﻟﻠَّﻴْﻠَﺔَ ﺧَﺸْﻒَ ﻧَﻌْﻠَﻴْﻚَ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻱَّ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻗَﺎﻝَ ﺑِﻼَﻝٌ ﻣَﺎ ﻋَﻤِﻠْﺖُ ﻋَﻤَﻼً ﻓِﻲ ﺍْﻹِﺳْﻼَﻡِ ﺃَﺭْﺟَﻰ ﻋِﻨْﺪِﻱْ ﻣَﻨْﻔَﻌَﺔً ﻣِﻦْ ﺃَﻧِّﻲ ﻻَ ﺃَﺗَﻄَﻬَّﺮُ ﻃُﻬُﻮْﺭًﺍ ﺗَﺎﻣًّﺎ ﻓِﻲ ﺳَﺎﻋَﺔٍ ﻣِﻦْ ﻟَﻴْﻞٍ ﻭَﻻَ ﻧَﻬَﺎﺭٍ ﺇِﻻَّ ﺻَﻠَّﻴْﺖُ ﺑِﺬَﻟِﻚَ ﺍﻟﻄُّﻬُﻮْﺭِ ﻣَﺎ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻲْ ﺃَﻥْ ﺃُﺻَﻠِّﻲَ

Rasulullah berkata kepada Bilal setelah menunaikan shalat subuh,

“Wahai Bilal, beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam! Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga.”

Bilal Radhiyallahu ‘anhu menjawab,

“Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku,

yang senantiasa melakukan shalat (sunat) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci (wudhu) dengan sempurna pada waktu siang ataupun malam.” (Hadits Riwayat Muslim).

Bilal adalah seorang kulit hitam yang diberi kepercayaan oleh Rasulullah untuk mengumandangkan adzan yang pertama dan seterusnya hingga Rasulullah wafat.

Nama lengkapnya adalah Bilal bin Rabah (lahir As Sarah, 43 tahun sebelum hijrah). Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah.

Bilal tumbuh dan besar pada kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.

Setelah memeluk Islam, Bilal memiliki ketakwaan yang sungguh-sungguh kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya.  Sehingga Allah mengangkat derajatnya sebagai orang yang bertakwa, calon penghuni surga.

Wallahu a’lam,
Editor: Dwi Aprillia

Berita Populer