Connect with us

Al Islam

Ini Makna Fitrah dan Penyucian Jiwa!

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi,” (Hadits).

Diterbitkan

on

Makna Fitrah dan Penyucian Jiwa (suara pakar)
Fitrah manusia adalah suci berada dalam kebenaran di atas agama Allah. Ini makna fitrah dan penyucian jiwa! (foto: Suarapakar.com).

Suarapakar.com – Ketika lahir seorang anak manusia di atas muka bumi kondisinya adalah fitrah, yaitu Suci dengan potensi kebaikan dan kebenaran di atas agama Allah. Ini makna fitrah dan penyucian jiwa!

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (Surat ke-30 Ar Ruum, ayat 30).

Ketika Fitrah Ternodai, Manusia Cenderung Berbuat Salah

Keadaan fitrah pada diri manusia itu bisa ternodai karena terpengaruh lingkungan orang tuanya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيْمَةِ تَنْتِجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan yang dilahirkan oleh hewan, apakah kalian melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya? (Hadits Riwayat Bukhari).

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga mengungkapkan bahwa fitrah pada jiwa manusia bisa cenderung fasik atau cenderung takwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا , فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا , قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا , وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (diciptakan Allah), maka (Allah) mengilhami jiwa itu (dengan jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang senantiasa mensucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya,” (Surat ke-91 Asy Syams, ayat 7-10).

Baca juga: Ini Hukum dan Tata Cara Aqiqah Berdasarkan Hadits Shahih

3 Tahap Penyucian Jiwa

Saʽid Hawwa, seorang tokoh dan ideolog terkemuka di Ikhwanul Muslimin Suriah (lahir: Hamat, Suriah, 27 September 1935, wafat: Amman, Yordania, 9 Maret 1989), menuliskan dalam kitabnya Tarbiyatuna Ar Ruhiyah bahwa,

cara untuk senantiasa mensucikan jiwa (tazkiyatun nafs) pada keadaan fitrah adalah dengan menjauhkan diri dari kemusyrikan, mengakui keesaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan meneladani akhlak Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Lansiran republika.co.id, Rabu (14/10/2020), Ada tiga tahapan penyucian jiwa menurut Said Hawwa yang mesti dilalui, yaitu Tathahhur, Takhalluq dan Tahaqquq.

1. Tathahhur,

Memfokuskan hati dan pikiran hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kuncinya adalah dzikir, baik secara lisan, batin, maupun perbuatan.

Kepaduan dzikir ini digambarkan dalam Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.” (Surat ke-3 Ali Imran, ayat 191).

2. Takhalluq,

Dapat diartikan sebagai perwujudan sifat-sifat Allah yang mulia dalam aktivitas seorang Muslim. Semboyannya adalah berakhlak sebagaimana akhlak Tuhan.

Misalnya, salah satu sifat Allah adalah Ar Rahmaan dan Ar Rahiim. Maka seseorang hendaknya cenderung bersifat pengasih dan penyayang terhadap sesama.

3. Tahaqquq,

Yaitu membiasakan akhlak-akhlak baik ke dalam kehidupan sehari-hari.
Ini adalah puncak perwujudan disiplin diri, sehingga jiwa cenderung pada kondisi ideal, An Nafs Al Muthma’innah.

Itulah gagasan Sa’id Hawwa dalam membangun tahapan penyucian jiwa pada diri manusia.

Fa’tabiruu, Wallahu a’lam,

GRANPRIZE

Berita Populer