Connect with us

Al Islam

Ini Hukumnya Memakan Daging Manusia!

“ … Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya, ….” (Surat ke-49 Al Hujurat, ayat 12).

Diterbitkan

on

Hukumnya Memakan Daging Manusia (suara pakar)
Ini hukumnya memakan daging manusia dalam pandangan Islam! (Foto: Suarapakar.com).

Suarapakar.com – Pada dasarnya fitrah manusia itu akan merasakan jijik untuk memakan daging sesama manusia (kanibalis). Ini hukumnya memakan daging manusia dalam pandangan Islam!

Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“ … Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Surat ke-49 Al Hujurat, ayat 12).

Lalu bagaimana jika dalam keadaan darurat?

Baca juga: Pezina Lolos dari Hukum Islam, Maka Allah yang Menghukumnya!

Ini Pendapat Ulama, Memakan Manusia dalam Keadaan Darurat

Menurut madzhab Maliki, Ahmad dan Daud, tetap tidak boleh (Haram) memakan daging manusia walaupun sudah menjadi mayat (meski keadaan darurat).

Namun menurut madzhab Imam Syafi’i membolehkan memakan daging manusia bagi orang yang dalam keadaan darurat tapi tidak boleh membunuh kafir dzimmi (kafir yang tidak memusuhi Islam), sesama muslim dan tawanan.

Jika kafir harby (kafir yang memusuhi Islam) atau orang zina muhson (orang yang sudah menikah melakukan zina dengan orang lain) maka boleh membunuhnya dan kemudian memakan dagingnya jika keadaan darurat. Lansiran laduni.id, Sabtu (9/3/2019),

Adapun dasar hukum pendapat yang mengharamkan memakan daging manusia meskipun dalam keadaan darurat, berdasarkan Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Surat ke-17 Al Israa, ayat 70).

Ayat ini menegaskan secara mutlak kemuliaan manusia. Tuhan telah bersumpah sungguh telah memuliakan anak Adam (manusia). Kata memuliakan (karramna) tentu menjunjung tinggi kehormatan manusia baik secara fisik maupun non fisik.

Jadi fisik manusia itu terhormat dan bukan fisik untuk dikonsumsi. Begitu halnya kata ‘Bani Adam’ atau manusia meskipun ia bukan seorang muslim pada dasarnya ia tetap manusia yang telah diciptakan Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Selanjutnya dalam ayat lain, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berseru kepada ‘seluruh manusia’ (bukan hanya muslim saja) untuk memakan makanan yang halal lagi baik.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Surat ke-2 Al Baqarah, ayat 168).

Wallahu a’lam,

Berita Populer