Connect with us

Al Islam

Hati-Hati! Istri Menggugat Cerai Termasuk Perbuatan Nusyuz

Nusyuz adalah pembangkangan atau kedurhakaan seorang istri kepada suami. Jika suami tidak menjerumuskan istrinya kepada suatu kemaksiatan, jangan menggugat cerai! Jika masih ingin mencium aroma surga.

Diterbitkan

on

Istri Menggugat Cerai (suara pakar)
Khulu' (istri menggugat cerai) tanpa alasan syar'i menyebabkannya tidak mencium aroma surga. (Foto: Suara Pakar).

Suarapakar.com – Dalam ajaran Islam, istri menggugat cerai suami dikenal dengan istilah Khulu’. Gugatan cerai istri (khulu’) ini, termasuk perbuatan Nusyuz yaitu pembangkangan seorang istri kepada suaminya.

Dalam Firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan cara bagaimana seorang suami membimbing istri yang Nusyuz. Yaitu sebagai berikut,

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“ … Istri-istri yang kamu khawatirkan Nusyuznya, maka (pertama) Nasehatilah mereka, dan (kedua) Pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka, dan (ketiga) Pukullah mereka.

Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Surat ke-4 An Nisaa, ayat 34).

Baca juga: Bolehkah Istri Bekerja di Luar Rumah? Ini Penjelasannya!

Khulu’ Dibolehkan, Namun Berdampak Tidak Mencium Aroma Surga

Melansir dari almanhaj.or.id, Para ulama fiqih sepakat terhadap makna khulu’, yaitu:

“Khulu’ adalah talak yang dilakukan oleh suami kepada istrinya dengan tebusan harta yang ia ambil dari istri. Disebut juga sebagai fidyah dan iftida.” Seperti yang terdapat pada kitab Fiqhus Sunnah (II/253), Manaarus Sabiil (II/226), dan Fat-hul Baari (IX/395).

Pada dasarnya khulu’ diperbolehkan dalam ajaran Islam. Namun khulu’ itu menyebabkan seseorang tidak akan mencium aroma surga di akhirat kelak.

Berdasarkan keterangan hadits, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Istri dari Tsabit bin Qais bin Syammas menghadap Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,

يَا رَسُولَ اللهِ مَا أَنْقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِينٍ وَلاَ خُلُقٍ إِلاَّ أَنِّي أَخَافُ الْكُفْرَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ، فَقَالَتْ: نَعَمْ. فَرَدَّتْ عَلَيْهِ وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا.

“Wahai Rasulullah, aku tidak mencela Tsabit dalam hal agama dan akhlaknya, akan tetapi aku takut akan (berbuat) kufur.” Maka Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apakah engkau mau mengembalikan kebun kepadanya?” Ia menjawab, “Ya.” Maka kemudian kebun itu dikembalikan kepada Tsabit bin Qais dan menyuruhnya untuk menceraikan istrinya.” (Hadits Riwayat Bukhari). Seperti yang terdapat dalam kitab Shahih Al Bukhari (IX/395, No. 5276).

Hadits ini menjelaskan bahwa apabila istri secara sadar sudah menetapkan hati tidak dapat tinggal bersama suaminya lagi. Karena sangat membencinya, takut tidak dapat menunaikan hak suami dan khawatir tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah dalam menaati-Nya. Maka boleh khulu’.

Namun khulu’ itu akan menyebabkannya tidak bisa mencium aroma surga. Sebagaimana keterangan hadits berikutnya, dari Tsauban Radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwa Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ.

“Wanita mana saja yang minta cerai dari suaminya tanpa adanya alasan (Syar’i), maka ia tidak akan mencium aroma wanginya Surga.” (Hadits Riwayat At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Abu Daud).

Wallahu a’lam,

Berita Populer