Connect with us

Nasional

Sejarah Jalan HM Joni Medan, Bukan Nama Sebenarnya dan Tidak Lagi Pasar Merah

Diterbitkan

on

Sejarah Jalan HM Joni
Suasana malam di kawasan Jalan HM Joni, Medan. (Foto: Vicky Siregar/ Suarapakar)

Suarapakar.com – Sejarah Jalan HM Joni di Medan, masih banyak orang yang belum mengetahuinya berbanding popularitas nama jalan itu sendiri. Sosok pemilik nama tersebut, minim sekali diketahui sejarawan bahkan pemerintah kota Medan.

Siapa sebenarnya HM Joni ini?

Jalan HM Joni berpangkal dari persimpangan Jalan Sisingamangaraja hingga membentang ke persimpangan Jalan Abduurahman Hakim – Jalan Bahagia by Pass. Di persimpangan awal, jalan ini berdampinghan dengan Taman Makam dan di tengahnya terdapat Museum Negeri Sumatera Utara.

Jalan HM Joni dikenal orang sebagai Jalan Pasar Merah. Nah, tentu Jalan Pasar Merah ini juga memiliki cerita yang tak kalah menariknya untuk disampaikan kepada orang-orang.

Kami terlebih dahulu mengungkapkan asal muasal Pasar Merah. Cerita sejarah jalan ini juga tidak banyak diketahui banyak orang.

Sejarawan muda kota Medan dari Universitas Sumatera Utara M Azis Rizky Lubis, darinya kami banyak mendapat informasi termasuk nantinya sejarah Jalan HM Joni.

Kami mendatangi kediamannya di Jalan Garuda, Kelurahan Tanjung Selamat, Medan Tuntungan (sebelum Pajak Melati). Kami disuguhi teh manis hangat dan sebungkus rokok Gudang Garam. Diskusi kecil mulai mengalir untuk menggali informasi.

Azis menjelaskan Jalan Pasar Merah atau yang dikenal dengan Jalan HM Joni, dulunya sebuah jalan dengan tanah berwarna merah. Terdapat satu pabrik milik Belanda, memproduksi batu bata dan genteng.

“Nah, pabrik ini sangat khas, di mana produksinya ditempel dengan cap perusahaan,” jelasnya.

“Berawal dari pabrik milik Belanda tersebut hingga saat ini warga sekitar lebih akrab dengan sebutan Pasar Merah,” ucap Azis yang merupakan stambuk 2012 Fakultas Sejarah USU itu.

Azis juga menceritakan mengapa dulu orang-orang lebih menyebutnya dengan Pasar Merah sampai sekarang. “Nah, kenapa Pasar Merah, ini menjadi satu ikon yang menjadi memorial bagi ingatan masyarakat sekitar maupun masyarakat kota sekitar,” ujarnya.

Azis melanjutkan, bahwa pada saat itu, Belanda setiap ingin membuka usaha baru, selalu menyesuaikan dengan kondisi sumber daya alam sekitar yang memadai.

“Pabrik ini sangat khas di mana produksinya selalu ditempel sama perusahaan. Bahan bakunya dibuatnya dari mana? Di dapat dari wilayah sekitar tanah merah. Nah, ini membuktikan Pasar Merah pada masa Belanda di abad 20-an masih sedikit kali warga yang bermukim disitu sehingga perusahaan Belanda sangat mudah menemukan bahan baku,” terangnya.

Baca Juga: Pendaftaran CPNS-PPPK Resmi Dibuka 30 Juni 2021, Berikut Jadwalnya

Nama Pasar Merah Kian Meredup

Nama Pasar Merah mulai kian meredup seiring perubahan nama yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Medan.

“Dan muncullah nama jalan yang dibuat oleh Pemko Medan dengan nama Haji Muhammad Joni atau di singgkat dengan HM Joni,” katanya.

Kami masih penasaran dan terus menekankan, siapa sebenarnya HM Joni ini? Namun, dirinya masih dengan semangat terus menceritakan sejarah Pasar Merah.

Ya, kami biarkan saja Aziz bercerita. Apa yang diceritakannya itu, juga informasi penting bagi sejarah kota Medan.

Pages: 1 2 3 4

2 Komentar

2 Comments

  1. Adi Pribadi

    July 1, 2021 at 1:36 pm

    “M Djoni juga pernah dibuang di Dibupenbigol daerah Iran Jaya tahun 1941 karena sangat anti Belanda. Tempat itu sering untuk orang pergerakan di buang kesana (Dibupenbigol) kalau tidak setuju dengan Belanda,” ujarnya.

    Dibupenbigol ini mungkin yang dimaksud Bovendigul ya min?

    • Budi Hermansyah

      July 2, 2021 at 10:11 am

      Tepat. Cuma ahli sejarah lebih menyebutnya Dibupenbiol.

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

GRANPRIZE

Berita Populer