Connect with us

Al Islam

5 Hal Penting Sebagai Hikmah Peristiwa Isra Miraj

Peristiwa isra miraj terjadi bukan tanpa sebab. Paling tidak terdapat 5 hal penting sebagai hikmah peristiwa isra miraj, salah satunya adalah ketetapan sholat fardhu 5 waktu dalam sehari.

Diterbitkan

on

Hikmah Peristiwa Isra Miraj (suara pakar)
Perintah sholat 5 waktu, salah satu dari hikmah peristiwa isra miraj. (foto: Suarapakar.com).

Suarapakar.com – 27 Rajab tahun 10 kenabian, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memperjalankan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, selanjutnya naik ke Sidratul Muntaha (langit ke-7).

Ada 5 hal penting sebagai hikmah peristiwa isra miraj. Yaitu,

1. Sebagai Penghibur Rasulullah

Wafatnya Abu Thalib bin Muthalib (paman Rasulullah), dan istri tercinta Siti Khadijah Radhiyallahu ‘anha telah membuat hati Rasulullah sedih.

Karena dua tokoh ini berperan penting dalam misi dakwah Rasulullah. Meskipun kita ketahui bahwa pamannya itu (Abu Thalib), wafat tidak dalam keadaan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi Abu Thalib merupakan benteng pergerakan Rasulullah dalam berdakwah.

2. Mengisi Hikmah dan Iman pada Diri Rasulullah

Sebagaimana dalam keterangan hadits, sebelum Rasulullah naik ke atas langit, malaikat Jibril ditugaskan untuk mensucikan bagian dalam diri Rasulullah.

Dari Anas bin Maalik, dari Malik bin Sha’sha’ah -Radhiyallahu ‘anhuma-, ia berkata, Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ketika aku berada pada sisi Baitullah antara tidur dan sadar” Lalu Beliau menyebutkan, yaitu, “Ada seorang laki-laki dari dua laki-laki yang datang kepadaku membawa baskom terbuat dari emas yang penuh berisikan hikmah dan iman,

Lalu orang itu membelah badanku dari atas dada hingga bawah perut, lalu ia mencuci perutku dengan air zamzam kemudian mengisinya dengan hikmah dan iman (tersebut).

Kemudian aku diberikan seekor hewan tunggangan putih yang lebih kecil dari pada bighal (kuda) namun labih besar dari keledai bernama Al Buraq. Maka aku berangkat bersama Jibril ‘Alaihissalam, …” (Hadits Riwayat Bukhari No. 2968).

Baca juga: Nabi Sholat 5 Waktu di Usia 50 Tahun (Isra Miraj), Baca Dulu

3. Dua Tempat Suci Bagi Umat Islam

Masjidil Haram Ke Masjidil Aqsha memiliki arti penting bagi umat Islam dan kehidupan beragama di dunia. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (Surat ke-3 Ali Imran, ayat 96).

Kemudian dalam ayat lain menjelaskan tentang Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis) di Palestina adalah kiblat pertama umat Islam sebelum Allah memerintahkan untuk menghadap kiblat ke Masjidil Haram.

Sebagaimana Firman-Nya,

سَيَقُولُ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَ ٱلنَّاسِ مَا وَلَّٮٰهُمۡ عَن قِبۡلَتِہِمُ ٱلَّتِى كَانُواْ عَلَيۡهَا‌ۚ قُل لِّلَّهِ ٱلۡمَشۡرِقُ وَٱلۡمَغۡرِبُ‌ۚ يَہۡدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬

“Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis/Al Aqsha) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?”

Katakanlah, “Kepunyaan Allah lah timur dan barat, Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. (Surat ke-2 Al Baqarah, ayat 142).

Imam Bukhari menjelaskan, bahwa Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa sallam ketika awal hijrah di Madinah sholat menghadap ke Baitul Maqdis (Al Aqsha) selama enam belas atau tujuh belas bulan.

Dalam shalatnya itu, Nabi sering menengadahkan pandangannya ke arah langit, menunggu-nunggu perintah Allah.

Sejarawan menuliskan, bahwa Nabi seakan-akan gelisah ketika shalat menghadap ke Baitul Maqdis. Sebab pada saat yang sama, orang-orang Yahudi jika melakukan ritual peribadatan mengarah ke kawasan itu.

Hingga kemudian Allah menurunkan Firman-Nya pada ayat berikutnya,

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.” (Surat ke-2 Al Baqarah, ayat 144).

4. Perintah Sholat Fardhu 5 Waktu

Dalam keterangan sebuah hadits shahih, ketika Rasulullah Shollallahu berada di Sidratul Muntaha, dan beberapa kali memohon keringanan atas perintah sholat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang awalnya 50 kali sehari, 30 kali, dan 10 kali.

“ … Aku kembali kepada Musa dan ia berkata; “Apa yang diperintahkan kepadamu?”. Aku jawab: “Aku diperintahkan dengan lima kali sholat dalam sehari.”

Musa berkata; “Sesungguhnya ummatmu tidak akan sanggup melaksanakan lima kali sholat dalam sehari, dan sesungguhnya aku, telah mencoba menerapkannya kepada manusia sebelum kamu, dan aku juga telah berusaha keras membenahi Bani Isra’il dengan sungguh-sungguh.

Maka kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan untuk umatmu”. Beliau berkata: “Aku telah banyak memohon (keringanan) kepada Rabbku hingga aku malu. Tetapi aku telah ridla dan menerimanya.”

Ketika aku telah selesai, terdengar suara orang yang berseru: “Sungguh Aku telah memberikan keputusan kewajiban-Ku dan Aku telah ringankan untuk hamba-hamba-Ku”.” (Hadits Riwayat Bukhari)

5. Sebagai Bukti Kerasulan Nabi Muhammad

Isra Miraj adalah bukti kerasulan Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau mengemukakan kejadian pada malam hari itu, tidak ada yang mempercayainya.

Hanya Abu Bakar yang pertam-tama mempercayainya dengan berkata, “Seandainya ia berkata apapun yang ada di belakang bukit ini aku percaya, ia tidak pernah berdusta.”

Akibat perdebatan yang seru itu maka Rasulullah di minta untuk menjelaskan keadaan Masjidil Aqsha oleh kaum Quraisy yang pernah berkunjung ke tempat tersebut (saat malam isra miraj itu).

Ternyata mereka melihat kebenaran atas penjelasan yang disampaikan oleh Rasulullah, maka pada saat itu orang yang musyrik bertambah musyrik, yang beriman bertambah kuat imannya dan yang ragu-ragu tetap dalam kebimbangan sehingga ada yang musyrik dengan kejadian tersebut.

Peristiwa Isra’ Mi’raj ini menjadi bukti kuat bahwa Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang Rasul yang diperintahkan Allah untuk mengajarkan risalah yang dibawanya,

merupakan tanda istimewa yang beliau miliki sebagai seorang manusia yang terpilih untuk mengajarkan akhlak mulia untuk seluruh ummat manusia. Melansir dari bacaanmadani.com (4/2016).

Wallahu a’lam,

Berita Populer